Category: Research Guy Blog

  • Cara Mendesain Market Survey yang Valid dan Tidak Sesat

    Cara Mendesain Market Survey yang Valid dan Tidak Sesat

    Dalam dunia bisnis yang terus berkembang, memahami kebutuhan dan perilaku target audiens sangatlah penting untuk membuat produk serta strategi pemasaran yang relevan. Salah satu cara paling efektif untuk menggali pemahaman ini adalah melalui market survey yang valid. 

    Sayangnya, menurut laporan dari Qualtrics, sekitar 23% brand tidak memiliki strategi market research yang jelas. Akibatnya, banyak yang melakukan market survey secara asal-asalan tanpa arah dan struktur yang tepat. Hal ini tentu bisa merusak kualitas data dan menghasilkan insight yang menyesatkan. Oleh karena itu, penting untuk mengetahui bagaimana cara mendesain market survey yang valid dan tidak sesat, terutama jika Anda beroperasi di wilayah padat persaingan seperti Jakarta.

    Market Survey yang Valid Harus Punya

    Ideal Customer Profile (ICP) yang Spesifik

    Untuk mendesain market survey yang valid, Anda perlu menentukan Ideal Customer Profile (ICP) secara jelas dan detail. ICP merupakan deskripsi fiktif dari pelanggan ideal Anda, termasuk aspek demografis, geografis, perilaku, dan kebutuhan spesifik. 

    Misalnya, jika Anda menjalankan bisnis SaaS untuk pemasaran digital, ICP Anda bisa berupa: “Marketing Manager usia 28-40 tahun yang bekerja di perusahaan B2B dengan minimal 50 karyawan, berdomisili di Jakarta atau Tangerang, dan memiliki pengalaman menggunakan CRM.” 

    Di sisi lain, jika Anda memasarkan produk minuman kesehatan, ICP-nya bisa lebih ke: “Perempuan usia 25-35 tahun yang tinggal di Jakarta Selatan, aktif di media sosial, peduli kesehatan, dan sering belanja online di e-commerce lokal.”

    Membuat ICP seakurat mungkin akan membantu Anda menyusun pertanyaan yang tepat dalam survei pasar. Sebaliknya, tanpa definisi yang tepat, survei Anda bisa menjangkau terlalu banyak segmen yang tidak relevan dengan strategi brand Anda. Hasilnya pun akan menjadi terlalu umum dan tidak bisa ditindaklanjuti secara strategis.

    Bekerjasama dengan market research agency Jakarta seperti Demand Gen Lab juga bisa membantu Anda mendesain ICP yang lebih spot-on.

    Jumlah Responden yang Cukup

    Jumlah responden dalam survei sangat mempengaruhi validitas hasil market survey. Semakin banyak responden, semakin kecil margin of error dan semakin tinggi tingkat kepercayaan (confidence level) data yang Anda kumpulkan. Namun, ini juga tergantung pada jenis survei yang Anda lakukan. Dalam riset eksploratif, margin of error yang lebih besar mungkin masih bisa ditoleransi karena tujuannya adalah memahami pola umum, bukan menghasilkan kesimpulan definitif.

    Sebaliknya, jika Anda ingin membuat keputusan penting, seperti meluncurkan produk baru di pasar Jakarta, Anda perlu mengumpulkan data dari lebih banyak responden untuk memastikan akurasi. Di sinilah peran bekerja dengan market research agency Jakarta sangat penting. Sebab, Anda bisa mengandalkan metode statistik yang tepat untuk menghasilkan hasil yang valid.

    Data yang Ingin Dicari atau Divalidasi

    Desain market survey yang valid selalu dimulai dengan mengetahui data apa yang ingin Anda cari atau hipotesis apa yang ingin Anda validasi. Di sisi lain, tujuan yang kurang konkret akan menghasilkan pertanyaan yang terlalu mengawang pula, dan akhirnya data yang tidak bisa digunakan.

    Sebagai contoh, jika Anda ingin mengetahui apakah target audiens Anda merasa harga produk Anda terlalu mahal, tentunya data yang ingin Anda gali adalah price sensitivity. Oleh sebab itu, Anda bisa menanyakan: “Berapa harga maksimum yang masih Anda anggap masuk akal untuk produk X?” atau “Seberapa besar kemungkinan Anda membeli produk ini jika harganya naik 10%?” 

    Market Insights yang dihasilkan dari data seperti ini bisa sangat berharga untuk menentukan strategi harga.

    Qualifying Questions yang Bisa Memfilter ICP

    Salah satu elemen terpenting dalam survei adalah memastikan bahwa responden yang menjawab benar-benar masuk dalam kategori ICP Anda. Oleh karena itu, penting untuk memasukkan qualifying questions di awal survei. Pertanyaan-pertanyaan ini berguna untuk menyaring responden agar hanya yang sesuai dengan profil yang Anda cari yang dihitung dalam hasil akhir market insights yang didapatkan.

    Sebagai contoh, jika Anda ingin menjangkau audiens yang berdomisili di Jabodetabek, Anda bisa menanyakan: “Di mana Anda tinggal saat ini?” dengan pilihan seperti Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi, dan luar Jabodetabek. Atau jika target Anda adalah decision maker di bidang pemasaran, Anda bisa menanyakan: “Apa jabatan Anda di perusahaan saat ini?” dan menyaring hanya jawaban seperti Marketing Manager atau Head of Marketing.

    Tanpa qualifying questions yang tepat, data Anda bisa terkontaminasi oleh responden yang sebenarnya tidak relevan. Ini akan mengurangi akurasi dari market survey dan memperbesar risiko membuat keputusan berdasarkan informasi yang keliru.

    Pertanyaan yang Tidak Mengarahkan Hasil Tertentu

    Sering kali, dalam survei pasar ada pertanyaan yang mengarahkan responden ke salah satu jawaban karena ada “pesanan” dari pihak tertentu dengan kepentingan tersendiri. 

    Misalnya, pertanyaan seperti: “Apakah Anda setuju bahwa produk A lebih baik dari produk B?” secara tidak langsung mendorong responden untuk menjawab ya. Akibatnya, survei menjadi alat pembenaran, bukan pencarian kebenaran. Padahal, tujuan utama dari market survey adalah menemukan insight, bukan mengukuhkan asumsi. 

    Sebaliknya, desain pertanyaan yang netral memungkinkan Anda mendapatkan market insights yang lebih murni dan jujur. Hasilnya pun akan lebih dapat dipercaya untuk dijadikan dasar pengambilan keputusan bisnis. Masih menggunakan contoh di atas, Anda mengubah pertanyaan tersebut menjadi: “Dari produk A dan B, mana yang lebih sesuai dengan kebutuhan Anda?” atau “Apa pertimbangan Anda dalam memilih antara produk A dan B?”

    Rekomendasi Research Agency Untuk Market Survey Jakarta

    Jika setelah mempertimbangkan semua hal di atas Anda merasa bahwa melakukan market research sendiri terlalu memakan waktu atau sumber daya, tidak ada salahnya untuk bekerja sama dengan market research agency Jakarta yang berpengalaman. Salah satu agensi yang bisa jadi pilihan adalah Demand Gen Lab.

    Demand Gen Lab pernah bekerja sama dengan TV Tokyo dalam melakukan market survey untuk memahami preferensi audiens terhadap konten anime dan drama Jepang dengan subtitle Indonesia di YouTube. Berbekal konten media sosial yang dibuat berdasarkan insight tersebut, TV Tokyo berhasil meningkatkan jumlah subscribernya hingga 22 kali lipat dalam waktu dua minggu sebelum peluncuran resmi channel YouTube-nya

    Tak hanya itu, Demand Gen Lab juga pernah membantu Miitel, sebuah perusahaan startup teknologi dari Jepang, dalam memahami kebutuhan para marketer B2B di Jabodetabek. Berdasarkan hasil riset tersebut, Miitel berhasil mengembangkan strategi content marketing yang relevan.

    Jika Anda ingin mendapatkan hasil market survey yang valid, tajam, dan actionable seperti kedua brand tersebut, Anda bisa mengecek portfolio dan harga layanan Demand Gen Lab dengan klik tombol “See Portfolio & Pricing” di bawah.

  • Pentingnya Market Intelligence Untuk Membangun Brand

    Pentingnya Market Intelligence Untuk Membangun Brand

    Keberhasilan sebuah brand tidak lagi hanya bergantung pada kualitas produk atau harga. Justru, persepsi pasar terhadap brand tersebut juga berpengaruh. Buktinya, sebuah studi dari Edelman menunjukkan bahwa 80% konsumen merasa perlu percaya terlebih dahulu pada sebuah brand sebelum mereka memutuskan untuk membeli. Salah satu cara paling efektif untuk membangun persepsi yang kuat adalah dengan mengenali pasar secara mendalam dengan bantuan agency Market Intelligence Jakarta seperti Demand Gen Lab. 

    Alasannya, agency Market Intelligence Jakarta seperti Demand Gen Lab bisa membantu bisnis memahami audiens mereka secara menyeluruh untuk membangun strategi branding yang tepat sasaran. Dengan data tersebut, perusahaan bisa menyusun strategi brand yang lebih akurat, relevan, dan bisa menjawab kebutuhan pasar.

    Kenapa Market Intelligence Penting?

    Memahami Kebutuhan Customer dan Pain Point Mereka

    Salah satu keunggulan utama dari Market Intelligence adalah kemampuannya dalam menangkap kebutuhan konsumen secara nyata dan akurat. Dengan mengumpulkan data langsung dari target market, perusahaan bisa memahami apa yang sebenarnya dirasakan oleh konsumen. Misalnya, melalui skala Likert 1-10, kita bisa menilai seberapa besar tingkat kesulitan atau ketidaknyamanan (pain point) yang mereka alami dalam konteks tertentu.

    Namun, sebelum sampai pada tahap kuantifikasi, langkah awal yang harus dilakukan adalah memastikan bahwa masalah yang ingin diselesaikan oleh bisnis memang benar-benar dialami oleh target pasar. Dengan pendekatan market survey yang sistematis, kita dapat mengetahui apakah solusi yang ditawarkan perusahaan benar-benar dibutuhkan oleh pasar atau tidak. Ini menjadi dasar penting dalam membentuk value proposition yang tepat dan membangun komunikasi brand yang relevan dengan kondisi nyata customer.

    Melalui data ini, perusahaan juga bisa mengidentifikasi segmen pasar yang paling membutuhkan solusi, serta bagaimana cara terbaik menyampaikan pesan kepada mereka.

    Mengenal Kompetitor Lebih Dekat

    Dalam membangun brand yang kuat, penting juga memahami lanskap kompetisi. Competitor intelligence adalah salah satu aspek dari market intelligence yang fokus untuk menganalisis strategi, kekuatan, dan kelemahan kompetitor di pasar. Melalui proses ini, perusahaan bisa mendapatkan insight mengenai harga, positioning, serta bagaimana konsumen menilai brand kompetitor.

    Informasi ini sangat penting agar perusahaan bisa menyusun strategi diferensiasi yang tepat, mulai dari segi keunggulan produk sampai cara brand berkomunikasi kepada konsumen melalui konten marketing. Hasilnya, kita dapat mengetahui apa saja kelebihan dan kekurangan kompetitor, serta bisa menghindari kesalahan yang sama. Dengan begitu, brand yang Anda bangun pun lebih unik sekaligus kompetitif dan relevan di mata konsumen.

    Mendapatkan Data Market Share dan Persepsi Brand

    Salah satu data utama dari proses Market Intelligence adalah estimasi market share dan persepsi brand. Kedua hal ini saling berkaitan dan sangat penting dalam membangun brand yang kuat. Market share mencerminkan posisi bisnis Anda secara kuantitatif, sedangkan persepsi brand menunjukkan bagaimana konsumen melihat brand Anda secara kualitatif.

    Dengan melakukan market survey yang tepat, Anda bisa memahami bagaimana persepsi publik terhadap brand Anda dibandingkan dengan kompetitor. Apakah brand Anda dianggap premium, ramah, atau malah tidak dikenal? Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini hanya bisa diperoleh melalui pendekatan riset yang tepat, seperti brand research.

    Menariknya, persepsi brand sering kali tidak sejalan dengan realitas. Bisa jadi Anda merasa sudah membangun brand yang solid, tapi di mata konsumen, brand Anda masih kalah dibanding kompetitor. Jadi, Anda bisa melihat kondisi brand bukan dari asumsi internal tim. Selain itu, analisis market share juga membantu Anda memahami apakah brand sudah tumbuh secara signifikan, atau justru stagnan di tengah persaingan yang ketat.

    Mengetahui Kondisi dan Prospek Industri

    Strategi branding yang baik tidak bisa berdiri sendiri tanpa memahami konteks industrinya. Melalui bantuan agency Market Intelligence Jakarta seperti Demand Gen Lab, bisnis bisa memperoleh gambaran lengkap tentang kondisi pasar dan arah perkembangan industrinya. Apakah industri sedang mengalami pertumbuhan? Atau justru menunjukkan tren penurunan?

    Dengan mengetahui prospek industri, perusahaan bisa memutuskan apakah mereka perlu berinovasi, bertahan, atau bahkan melakukan pivot ke sektor lain. Data ini akan sangat membantu dalam merumuskan strategi brand yang cocok dengan situasi dan kondisi saat ini, serta bisa beradaptasi dengan perubahan yang akan datang. Terutama, saat berhadapan dengan tren preferensi konsumen yang memengaruhi lanskap industri secara keseluruhan.

    Membantu Untuk Mengambil Keputusan Bisnis

    Keputusan bisnis yang solid haruslah berbasis data. Data dari market intelligence maupun brand research bisa digunakan untuk berbagai jenis keputusan, mulai dari penentuan pricing, pemilihan channel komunikasi, hingga pengembangan produk baru. Semua keputusan ini berdampak langsung pada citra dan kekuatan brand di mata pasar.

    Dengan memahami kondisi pasar, perilaku konsumen, serta kekuatan dan kelemahan kompetitor, perusahaan dapat menghindari keputusan yang hanya berdasarkan intuisi. Hasilnya, strategi yang dijalankan akan lebih efisien, terukur, dan berdampak jangka panjang pada brand equity.

    Setelah Mendapatkan Data Market Intelligence, Apa Selanjutnya?

    Setelah mengumpulkan berbagai data, Anda perlu mengintegrasikan temuan-temuan tersebut ke dalam strategi brand, komunikasi, dan pemasaran. Riset pasar bukan hanya sekadar pengumpulan data, tapi menjadi landasan dalam membentuk strategi yang solid dan terukur. Menurut berbagai studi, brand strategy yang dibangun berdasarkan data riset memiliki peluang sukses yang jauh lebih tinggi dibanding strategi yang hanya berdasarkan intuisi atau asumsi.

    Contohnya, melalui brand research, perusahaan bisa tahu pesan komunikasi seperti apa yang paling resonate dengan audiens mereka. Sementara lewat market survey, mereka bisa memahami tren perilaku konsumen yang sedang berkembang. Ditambah lagi dengan competitor intelligence, strategi yang dibentuk akan jauh lebih tajam karena mempertimbangkan posisi brand dalam konteks persaingan.

    Data yang diperoleh juga bisa dipakai untuk melakukan evaluasi strategi yang sudah dijalankan sebelumnya. Apakah strategi tersebut masih relevan? Apakah perlu dilakukan penyesuaian? Semua bisa ditentukan berdasarkan insight yang didapat dari market intelligence.

    Namun perlu dicatat, pengolahan data dan interpretasi dari agency Market Intelligence Jakarta seperti Demand Gen Lab juga sangat krusial. Data yang ada tidak akan berguna tanpa analisis yang tajam dan aplikatif. Oleh karena itu, bekerja sama dengan tim yang berpengalaman dalam bidang riset pasar sangat disarankan untuk memaksimalkan hasil.

    Jika Anda tertarik untuk melakukan riset seperti market intelligence, competitor intelligence, atau jenis riset lainnya yang relevan dengan kebutuhan bisnis Anda, silakan klik tombol “See Portfolio” di bagian bawah halaman website Demand Gen Lab. Kami siap membantu Anda menemukan insight terbaik untuk membangun strategi brand yang lebih kuat, tajam, dan relevan dengan kondisi pasar saat ini.

  • Product Research di Jakarta Untuk Menemukan Product Market Fit

    Product Research di Jakarta Untuk Menemukan Product Market Fit

    Tanpa adanya kesesuaian yang kuat antara produk dan kebutuhan pasar, bisnis akan kesulitan bertahan, apalagi berkembang di Jakarta. Laporan The State of Market Research 2025 yang diterbitkan Hanover Research bahkan telah membuktikan bahwa perusahaan yang secara aktif melakukan riset produk dapat meningkatkan peluang keberhasilan sebesar 33% dalam memasuki pasar baru, 23% dalam merancang produk yang benar-benar sesuai dengan kebutuhan pelanggan, dan bahkan menghemat pengeluaran sebesar 21%. 

    Dari data tersebut, jelas bahwa Product Research adalah langkah yang sangat penting untuk mencegah kegagalan produk. Namun, bagaimanakah cara melakukan product research di Jakarta dengan tepat? Mari simak ulasan berikut agar Anda dapat menjaga product market fit yang kuat.

    Product Research di Jakarta Sebelum Launching

    Sebelum Anda terburu-buru meluncurkan produk, sebaiknya Anda melakukan product research terlebih dahulu. Proses ini bertujuan untuk memastikan bahwa Anda benar-benar membuat sesuatu yang dibutuhkan pasar di Jakarta, bukan sekadar teori yang terdengar bagus. Pada akhirnya, Anda pun bisa menekan risiko kerugian waktu, tenaga, dan uang. 

    Berikut adalah caranya yang tepat:

    Mulai Dari Masalah yang Ingin Diselesaikan dan Pahami Seberapa Berat Masalahnya

    Langkah awalnya adalah memahami masalah yang ingin diselesaikan. Apakah masalah tersebut benar-benar nyata dan dialami oleh target pasar Anda? Lakukan market validation dengan cara menanyakan seberapa menyakitkan masalah tersebut bagi target audiens Anda menggunakan skala Likert 1-10. 

    Bila mayoritas skor berada di bawah 7, bisa jadi masalahnya tidak cukup signifikan untuk dijadikan pijakan membuat produk. Daripada memaksakan ide dan membuang sumber daya, lebih baik mencari masalah lain yang lebih relevan. Di fase ini, Product Research memiliki peran besar dalam mengarahkan Anda untuk mengambil keputusan yang lebih akurat dan berbasis data.

    Kenali Ideal Customer Profile (ICP)

    Setelah Anda yakin akan masalah yang ingin dipecahkan, langkah berikutnya adalah mengenali siapa yang mengalami masalah tersebut. Buatlah profil Ideal Customer Profile (ICP) sedetail mungkin untuk mengetahuinya. Misalnya, laki-laki dan perempuan berusia 25-40 tahun, tinggal di Jakarta, bekerja di sektor kreatif, memiliki penghasilan menengah ke atas, sering menggunakan platform digital, dan aktif di media sosial. 

    Semakin spesifik data ini, semakin tepat sasaran produk Anda nantinya. Di tahap ini, melakukan Consumer Research di Jakarta bisa membantu memperjelas siapa sebenarnya target Anda.

    Cari Tahu Apa yang Dilakukan ICP Untuk Menyelesaikan Masalah

    Selanjutnya, pahami bagaimana ICP saat ini menyelesaikan masalah tersebut melalui Consumer Research di Jakarta. Apakah mereka menggunakan tools otomatis tertentu? Atau, mungkin saja mereka mengandalkan jasa manual? 

    Dengan mengetahui solusi alternatif yang sudah mereka coba, Anda bisa mendapatkan insight penting untuk membentuk fitur produk Anda agar lebih unggul.

    Product Research Setelah Launching

    Setelah melalui berbagai proses Product Research di Jakarta dan meluncurkan produk ke pasar, pekerjaan Anda belum selesai. Bahkan, setelah Anda mendapatkan pengguna pertama, product research harus tetap dilakukan secara berkala. Tujuannya adalah untuk mengevaluasi apakah produk Anda benar-benar menyelesaikan masalah, serta mengetahui arah pengembangan produk ke depan. 

    Fokus riset setelah launching sebaiknya mencakup beberapa poin Consumer Research penting berikut:

    Tanya ke ICP apakah produk kita bisa menyelesaikan masalah dia

    Pertanyaan pertama dan terpenting setelah launching yang harus Anda tanyakan adalah: apakah produk Anda berhasil menyelesaikan masalah pengguna? Gunakan kembali skala Likert dari 1 sampai 10. Jika skor rata-rata masih rendah, artinya Anda perlu kembali melakukan iterasi produk. Hasil tersebut juga merupakan bagian dari proses market validation lanjutan yang menentukan apakah produk Anda benar-benar dibutuhkan.

    Tanya ke ICP fitur utama yang mereka paling suka atau tidak suka

    Tanyakan kepada pengguna: fitur apa yang paling mereka sukai dan fitur apa yang paling tidak mereka sukai? Ini bisa dilakukan dengan survei sederhana menggunakan skala Likert juga. 

    Fitur yang paling disukai bisa Anda promosikan lebih agresif dalam konten pemasaran, ditampilkan secara lebih menonjol dalam UI/UX, atau bahkan dijadikan sebagai unique selling point (USP) yang membedakan produk Anda dari kompetitor.

    Sebaliknya, fitur yang banyak tidak disukai bisa jadi sinyal awal bahwa ada sesuatu yang perlu diperbaiki, entah dari segi desain, nama, user flow, atau bahkan bisa saja karena fitur tersebut tidak relevan dengan kebutuhan mereka

    Feedback fitur ini juga dapat digunakan untuk merancang prioritas pengembangan berikutnya. Anda bisa membuat product roadmap berdasarkan apa yang benar-benar diinginkan pengguna, bukan berdasarkan asumsi internal tim.

    Tanya ke ICP apakah mereka bisa hidup tanpa produk kita

    Pertanyaan paling efektif untuk menguji seberapa penting produk Anda di mata pengguna adalah: “Kalau produk ini hilang besok, apakah Anda akan merasa kehilangan?” Lagi-lagi, gunakan skala 1-10 sebagai cara termudah untuk mengukurnya. 

    Bila skor yang Anda dapatkan tinggi (8-10), berarti produk Anda telah menjadi bagian dari rutinitas atau solusi utama pengguna. Jika skornya rendah, berarti Anda masih harus bekerja keras untuk membuat produk Anda benar-benar relevan dan tak tergantikan.

    Selain Product Research, Perlukah Competitor Intelligence?

    Di fase awal perjalanan produk, fokus utama tetaplah pada membangun produk yang solid. Dengan kata lain, jangan terlalu cepat terganggu dengan kompetitor. 

    Namun, ketika Anda mulai menunjukkan tanda-tanda product market fit seperti tingkat loyalitas pengguna yang tinggi, fitur yang mulai diperbincangkan, dan revenue tumbuh stabil, itulah saatnya Anda perlu melakukan riset dengan bantuan layanan Competitor Intelligence di Jakarta. 

    Mengetahui strategi, pricing, dan positioning kompetitor akan membantu Anda tetap unggul. Namun, ingatlah bahwa tahap Competitor Intelligence baru hanya terasa penting ketika brand Anda sudah memperkuat posisinya hingga mantap di kalangan market yang relevan.

    Menemukan product market fit bukanlah hasil dari satu langkah besar, melainkan proses yang terus berjalan. Mulai dari fase sebelum launching hingga sesudah produk berada di tangan konsumen, Product Research adalah hal yang harus dilakukan. Fokuslah membangun produk yang benar-benar dibutuhkan, lakukan market validation berulang kali, dan selalu dengarkan apa kata pengguna.

    Untuk membantu Anda memulai, pertimbangkan untuk melihat portfolio riset Demand Gen Lab yang telah terbukti membantu berbagai brand menemukan dan mempertahankan product market fit mereka. Klik tombol See Portfolio di bawah halaman ini sekarang, dan temukan bagaimana pendekatan Product Research di Jakarta dari Demand Gen Lab bisa meningkatkan efektivitas strategi bisnis Anda.

  • Daftar Lengkap Research Agency Jakarta

    Daftar Lengkap Research Agency Jakarta

    Menurut laporan The State of Market Research 2025 dari Hanover Research, perusahaan yang secara rutin melakukan riset pasar memiliki peluang 1,3 kali lebih besar untuk meningkatkan pendapatan mereka setidaknya sebesar 15%. Namun, tidak semua perusahaan memiliki sumber daya internal untuk melaksanakan market research secara menyeluruh. Di sinilah research agency Jakarta bisa membantu.

    Sebab, pada umumnya research agency Jakarta memiliki tim yang lengkap untuk memperoleh data valid serta actionable, sehingga perusahaan tidak perlu membangun tim khusus sendiri. Selain itu, jika Anda ingin melakukan riset di kota besar seperti Jakarta dengan banyak orang, kolaborasi dengan market research agency akan membuat strategi bisnis semakin presisi dan efisien.

    Berikut adalah daftar beberapa research agency yang ada di Jakarta:

    Demand Gen Lab

    Memahami bahwa waktu adalah aset yang sangat berharga di tengah kompetitifnya dunia bisnis, Demand Gen Lab menggunakan metode riset kualitatif dan kuantitatif untuk menghasilkan validasi cepat (quick validation) tanpa mengorbankan kualitas data. Proses kerja research agency Jakarta Demand Gen Lab memungkinkan klien mendapatkan insight penting hanya dalam hitungan hari, bukan minggu. Hal ini memberikan keunggulan kompetitif bagi perusahaan dalam mengambil keputusan yang berbasis data dengan lebih cepat.

    Demand Gen Lab juga memahami pentingnya efisiensi biaya. Tidak semua perusahaan memiliki anggaran riset besar seperti korporasi multinasional. Oleh karena itu, Demand Gen Lab menyusun struktur layanan yang fleksibel dan cost-effective, sehingga startup yang baru berdiri pun bisa mendapatkan layanan riset berkualitas tinggi. 

    Hal ini terbukti dari kolaborasi Demand Gen Lab dengan Miitel, startup teknologi komunikasi dari Jepang yang ingin memahami pasar Indonesia, serta Modalku, perusahaan fintech yang memerlukan riset perilaku konsumen dalam pengembangan produk barunya.

    Meskipun affordable, research agency Jakarta Demand Gen Lab juga dipercaya oleh perusahaan besar seperti TV Tokyo. Dalam proyek riset bersama, Demand Gen Lab membantu mengidentifikasi potensi konten dan preferensi penonton Indonesia dalam waktu yang sangat singkat. Ini membuktikan bahwa Demand Gen Lab mampu memenuhi standar riset yang dibutuhkan oleh perusahaan berskala global. Kepercayaan dari klien besar dan kecil mencerminkan fleksibilitas serta kualitas layanan research agency Indonesia yang cepat,terjangkau, serta dapat diandalkan.

    Sebagai research agency Jakarta, Demand Gen Lab juga memiliki pemahaman mendalam terhadap perilaku pasar Indonesia. Dengan kata lain, hasil market research Demand Gen Lab memberikan data sekaligus konteks yang dibutuhkan agar insight menjadi lebih tajam dan aplikatif.

    Kadence International

    Kadence International adalah agensi riset global yang berkantor pusat di London dan memiliki cabang di berbagai negara, termasuk Indonesia. Spesialisasi mereka meliputi riset brand positioning, customer experience, serta pengujian produk dan komunikasi. Mereka juga menawarkan layanan end-to-end, mulai dari perencanaan metodologi, pengumpulan data, hingga analisis mendalam terhadap perilaku konsumen di Asia Tenggara.

    Kantar Indonesia

    Kantar Indonesia adalah bagian dari Kantar Group, salah satu perusahaan riset dan data terbesar di dunia yang berbasis di Inggris. Di Indonesia, Kantar berfokus pada riset konsumen dan merek, serta menyediakan layanan analitik berbasis big data dan AI. Spesialisasi mereka mencakup pemetaan brand health, efektivitas iklan, serta perilaku pembelian konsumen.

    NielsenIQ

    NielsenIQ, sebelumnya dikenal sebagai Nielsen, adalah pemimpin global dalam analitik data konsumen di industri FMCG, e-commerce, dan distribusi modern trade, dengan kantor cabang di Jakarta. Mereka umumnya menyediakan data penjualan ritel dan perilaku konsumen secara longitudinal. NielsenIQ membantu klien memahami performa produk di pasar melalui panel ritel yang luas dan teknologi data tracking yang canggih.

    GFK Indonesia

    GFK Indonesia merupakan bagian dari GFK Group yang berbasis di Jerman. Mereka memiliki spesialisasi di bidang riset berbasis teknologi, dengan kekuatan utama di industri elektronik konsumen, otomotif, dan e-commerce. Di Indonesia, GFK menawarkan analitik berbasis point-of-sales data, sehingga perusahaan dapat memantau penjualan secara real-time dan menganalisis efektivitas strategi distribusi mereka.

    Populix

    Populix adalah startup platform riset asal Indonesia yang mengandalkan pendekatan digital dalam pengumpulan data. Didirikan oleh anak muda Indonesia, Populix memanfaatkan panel responden online yang tersebar di seluruh Indonesia untuk mengumpulkan data preferensi konsumen tanah air. Selain survei, mereka juga menawarkan layanan wawancara mendalam dan focus group discussion (FGD) secara online.

    Ipsos Indonesia

    Ipsos Indonesia merupakan cabang dari Ipsos Group yang berbasis di Prancis, salah satu penyedia jasa riset terbesar di dunia. Di Jakarta, Ipsos memiliki tim riset lokal yang mendalam dalam berbagai sektor seperti politik, media, kesehatan, dan FMCG. Layanan mereka mencakup polling opini publik, riset pemasaran, evaluasi komunikasi, dan pengujian produk.

    Markplus Insights

    MarkPlus Insight adalah divisi riset dari MarkPlus Inc., perusahaan marketing consulting terkemuka di Indonesia yang didirikan oleh Hermawan Kartajaya. Fokus utama mereka adalah pada segmentasi pasar, riset branding, dan pemetaan konsumen Indonesia. Dengan pendekatan yang kental akan nilai-nilai lokal, MarkPlus Insight unggul dalam memahami budaya pasar Indonesia secara lebih mendalam.

    Kenapa Memilih Demand Gen Lab Sebagai Market Research Agency di Jakarta?

    Penekanan Pada Quick Validation

    Demand Gen Lab mengandalkan metode riset yang memprioritaskan quick validation, sehingga waktu untuk melakukan riset market insights Jakarta bisa dipangkas tanpa menurunkan kualitas data yang diperoleh. Namun, apabila Anda membutuhkan riset berskala penuh yang lebih komprehensif di lintas channel, tim profesional research agency Jakarta Demand Gen Lab tetap mampu menyediakannya.

    Harga yang Affordable Bahkan Bagi Startup

    Dengan harga yang lebih terjangkau dibandingkan rata-rata agensi multinasional di Jakarta, Demand Gen Lab telah dipercaya oleh startup seperti Miitel dan Modalku, serta korporasi seperti TV Tokyo untuk mendapatkan market insights Jakarta yang berkualitas dalam waktu lebih singkat. Hasilnya, Anda tetap bisa menghemat biaya dan mengalokasikan dana untuk kebutuhan penting lainnya dalam bisnis.

    Portfolio Klien yang Multi-Industri

    Research agency Indonesia Demand Gen Lab telah bekerja dengan klien dari berbagai industri seperti hiburan, B2B tech, fintech, beauty, dan banyak lainnya untuk memperoleh market insights Jakarta. Hal ini memperkuat pemahaman Demand Gen Lab terhadap kebutuhan lintas sektor yang beragam, mulai dari segi proses bisnis hingga cara berkomunikasi dengan pelanggan yang dilayani di tiap sektor.

    Local Knowledge

    Sebagai research agency Indonesia, Demand Gen Lab memiliki keunggulan dalam memahami konteks pasar tanah air secara mendalam. Terutama, mengenai preferensi belanja, cara mengakses informasi, norma yang berlaku, dan masih banyak lagi. Semua pengetahuan ini membuat data yang Demand Gen Lab hasilkan lebih relevan dan aplikatif, sekaligus semakin memperkuat reputasi profesional bisnis Anda.

    Di era di mana data menjadi dasar pengambilan keputusan bisnis, memilih research agency Jakarta yang tepat sangatlah penting. Jika Anda mencari solusi riset yang cepat, efisien secara biaya, serta memiliki rekam jejak dengan berbagai tipe klien dan industri, Demand Gen Lab adalah pilihan research agency Jakarta yang layak dipertimbangkan.

    Demand Gen Lab mampu memberikan angka yang dipadukan dengan insight praktis supaya dapat langsung digunakan untuk menyusun strategi bisnis yang lebih tajam. Untuk melihat lebih lanjut portofolio riset lampau dan mempelajari paket layanan yang tersedia, silakan klik tombol “See Pricing & Portfolio” di halaman website Demand Gen Lab.

  • Strategi Content Marketing Untuk Bisnis B2C

    Strategi Content Marketing Untuk Bisnis B2C

    Image created with Midjourney

    Ada banyak hal yang bisa mendorong pelanggan untuk membeli dari sebuah brand B2C, dan strategi content marketing yang merupakan bagian dari demand generation adalah salah satu yang terbukti berdampak signifikan bagi bisnis. Sebab, Contently menemukan bahwa 74% pelanggan akan lebih memilih sebuah brand setelah menemukan berita positif atau konten yang membantu dari bisnis tersebut di internet. 

    Karena pelanggan bisnis B2C merupakan seorang individu yang tidak perlu melewati proses pengambilan keputusan yang panjang seperti di perusahaan, pendekatan strategi content marketing yang dibutuhkan sedikit berbeda.

    Selain menyebarkan informasi, Anda juga harus bisa menciptakan hubungan emosional yang kuat dengan target audiens. Ini dia cara merencanakan dan mengeksekusi strategi content marketing bisnis B2C Anda berdasarkan pengalaman Demand Gen Lab, market research agency Jakarta.

    Tentukan Ideal Customer Profile

    Langkah pertama, tentukan siapa Ideal Customer Profile (ICP) atau demografis spesifik pembeli produk Anda. Contohnya, usia, jenis kelamin, lokasi, dan seperti apakah produk yang diminati oleh mereka. Anda dapat mulai dengan mengumpulkan data melalui riset pasar, wawancara, dan analitik. Selain itu, Anda juga bisa melakukan survei online atau menganalisis data media sosial untuk memahami karakteristik konsumen yang paling sering terlibat dengan brand Anda.

    Proses ini mirip dengan tahap awal demand generation karena Anda juga harus mengumpulkan informasi mendalam tentang target audiens. Lakukan segmentasi berdasarkan perilaku dan preferensi konsumen. Misalnya, bagi audiens menjadi segmen remaja dan dewasa muda dengan gaya hidup urban. Anda dapat menggunakan alat analitik seperti Google Analytics atau Facebook Insights untuk mendapatkan data yang akurat. 

    Pastikan untuk menguji hipotesis Anda melalui wawancara langsung dengan pelanggan. Kemudian, gunakan hasil wawancara sebagai dasar untuk memoles detail customer persona Anda. Dengan demikian, Anda dapat menyusun konten yang tepat sasaran dan meningkatkan efektivitas kampanye pemasaran.

    Untuk mempercepat proses ini, Anda juga bisa bekerjasama dengan market research agency di Jakarta seperti Demand Gen Lab. Portfolio Demand Gen Lab bisa dilihat dengan mengklik tombol “See Pricing & Portfolio” di bawah.

    Buat Strategi Konten untuk Tujuan Bisnis Anda

    Setelah mendapatkan gambaran menyeluruh tentang pelanggan ideal Anda, kini saatnya menyusun strategi content marketing yang sejalan dengan tujuan bisnis. Dengan strategi yang matang, Anda dapat memastikan setiap konten yang diproduksi mendukung pencapaian target dan mengarahkan pelanggan menuju konversi. Tetapkan objektif yang spesifik, apakah itu meningkatkan awareness, mendorong engagement, atau meningkatkan penjualan sebuah produk dan jumlah orang yang berlangganan newsletter eksklusif. 

    Perlu diingat bahwa setiap tahap memerlukan strategi konten yang berbeda. Misalnya, pada tahap awareness, Anda bisa membuat konten edukatif berupa artikel blog atau video pendek tentang masalah umum yang dihadapi audiens. 

    Di tahap consideration, Anda dapat menyajikan studi kasus atau testimoni pelanggan yang menunjukkan bagaimana produk Anda menyelesaikan permasalahan mereka. Sedangkan pada tahap decision, Anda bisa menghadirkan penawaran khusus atau demo produk yang memudahkan keputusan pembelian. 

    Apabila Anda sudah menentukan tujuan konten, susunlah content pillar yang menjawab pain points dari ICP dan terintegrasi dengan produk yang Anda tawarkan. Sebagai contoh, jika produk Anda berkaitan dengan perawatan kulit, content pillar Anda dapat mencakup tips perawatan kulit, review produk, dan tutorial penggunaan produk.

    Relatability Lebih Penting Dari Kualitas Teknis

    Sedikit berbeda dengan konten B2B yang lebih teknis, konten bisnis B2C sebaiknya mampu menyentuh emosi dan kehidupan sehari-hari pelanggan individu. Hal ini semakin diperkuat oleh hasil riset dari Social Media Today: 90% konsumen lebih mempercayai konten yang menonjolkan authenticity, serta relatable dengan hidup mereka. 

    Maka dari itu, Anda harus menyampaikan pesan dengan bahasa yang mudah dipahami dan menyentuh pengalaman pribadi audiens. Misalnya, ketika mempromosikan produk kecantikan, gunakan cerita nyata dari pelanggan yang menceritakan transformasi kulit mereka setelah menggunakan produk Anda.

    Tak kalah penting, tonjolkan nilai dan semangat brand dalam konten Anda. Misalnya, Anda dapat memanfaatkan strategi user-generated content untuk menunjukkan keaslian atau ajak pelanggan ikut serta dalam pembuatan konten melalui kompetisi dan tantangan. Hasilnya, mereka akan merasa terhubung secara emosional dan lebih cenderung memilih produk Anda dibandingkan pesaing.

    Jika Anda membutuhkan bantuan untuk mengetahui apa yang dibutuhkan oleh pelanggan dan menciptakan konten sesuai kebutuhan tersebut, Anda dapat bekerjasama dengan demand generation agency seperti Demand Gen Lab. Sebab, demand generation agency dapat mendampingi Anda dalam proses riset pasar serta perencanaan konten agar lebih relate dengan pelanggan.

    Distribusi dan Modifikasi Konten Untuk Berbagai Channel

    Media sosial, terutama Instagram dan TikTok, merupakan platform wajib bagi bisnis B2C. Sebab, menurut HubSpot, mayoritas pengguna mengakses media sosial sebanyak lebih dari 3 jam dalam sehari. Termasuk, untuk mencari hiburan dan informasi tentang sebuah produk sebelum melakukan pembelian. Jadi, Anda bisa menarik perhatian pelanggan dengan memanfaatkan waktu tersebut. 

    Namun, setiap channel memiliki karakteristik yang berbeda sehingga Anda harus memodifikasi format konten agar sesuai. Contohnya, Anda dapat mengubah artikel blog menjadi video singkat untuk TikTok atau carousel gambar untuk Instagram.

    Selain media sosial, manfaatkan channel lain seperti website, email newsletter, dan blog. Gunakan strategi omnichannel agar pesan brand Anda konsisten dan menjangkau audiens lebih luas. Untuk mempermudah, buat kalender konten agar Anda bisa mengatur jadwal distribusi dan penyesuaian format di setiap platform. Anda dapat menggunakan tools seperti Hootsuite atau Buffer untuk menjadwalkan postingan secara otomatis. Dengan pendekatan yang terintegrasi, Anda bisa memastikan bahwa setiap konten memiliki daya jangkau maksimal dan terus meningkatkan engagement pelanggan.

    Ukur, Analisa, dan Ulangi

    Setiap konten yang Anda produksi harus selalu dievaluasi kinerjanya melalui analitik supaya Anda tidak menghamburkan terlalu banyak uang untuk strategi yang kurang efektif. Periksa metrik seperti click rate, waktu tayang, dan conversion rate untuk menilai efektivitas konten. Anda dapat menggunakan Google Analytics, Facebook Insights, atau platform analitik lain untuk mendapatkan data yang akurat dengan lebih mudah.

    Setelah mengetahui angka dari setiap KPI, lakukan analisis lebih mendalam untuk mempelajari apa yang berhasil dan apa yang perlu diperbaiki. Contohnya, jika konten video di Instagram menunjukkan engagement tinggi, Anda dapat memperbanyak jenis konten tersebut. Setelah itu, buat laporan bulanan yang memuat metrik utama dan insight dari tiap channel. 

    Berdasarkan hasil laporan tersebut, ulangi siklus pembuatan konten dan lakukan A/B testing kembali. Dari sini, Anda bisa mengevaluasi variasi konten dan menentukan format mana yang paling disukai audiens. Pada akhirnya, dengan siklus evaluasi yang terus menerus, Anda akan menemukan pola sukses yang dapat diterapkan kembali untuk kampanye berikutnya agar strategi content marketing brand Anda tetap responsif terhadap perubahan tren pasar.

    Bonus: Cari Influencer yang Memang Customer

    Influencer memiliki peran penting dalam strategi content marketing untuk bisnis B2C. Data dari riset Sprout Social pada tahun 2024 menunjukkan bahwa 49% konsumen global melakukan pembelian rutin berdasarkan rekomendasi influencer, dan jumlah orang yang mempercayai ulasan dari influencer telah meningkat sebesar 30%. Untuk memaksimalkan strategi ini, sebaiknya Anda mencari influencer yang juga merupakan pelanggan setia produk Anda. Alasannya, influencer yang sudah merasakan manfaat produk akan menyampaikan ulasan dengan lebih autentik dan personal.

    Contohnya, jika bisnis Anda menjual produk makanan sehat, pilihlah influencer yang secara aktif menjalani gaya hidup sehat dan telah menggunakan produk Anda. Lakukan pendekatan personal kepada influencer dengan menawarkan produk gratis atau diskon khusus sebagai imbalan atas review yang jujur. 

    Pastikan konten yang mereka bagikan tetap konsisten dengan identitas brand dan mampu menyasar pain points audiens Anda. Jadi, Anda bisa menciptakan konten yang relatable sekaligus membangun kepercayaan konsumen.

    Contoh Penerapan Content Marketing B2C – Demand Gen Lab x Wardah

    Salah satu klien Demand Gen Lab di bisnis B2C yang paling besar adalah Wardah. Dalam bisnis beauty, membangun komunitas sangatlah penting. Itu kenapa Wardah berkeputusan untuk menerapkan strategi demand generation berbasis content marketing dalam marketing strategy mereka. Beberapa masalah awal yang mereka hadapi adalah:

    • Dulu, Wardah sangat lekat dengan kosmetik khusus muslim. Stigma ini yang berusaha diubah karena Wardah juga bisa digunakan oleh wanita modern meskipun  masih tetap halal dan ramah muslim.
    • Persaingan dengan merek kosmetik dari luar negeri yang sangat sengit.
    • Tim marketing Wardah bisa dibilang cukup kecil, sehingga sangat sibuk untuk bisa mengeksekusi semua strategi mereka.

    Untuk menghadapi masalah-masalah tersebut, tim marketing Wardah memutuskan untuk bekerjasama dengan Demand Gen Lab sebagai market research agency di Jakarta dan rekanan kami, Penulis.ID. Kepercayaan besar ini diberikan pada tim kami untuk melakukan:

    1. Membantu tim Wardah mengenali ICP mereka, dan melakukan support untuk shifting ke wanita modern (brave & beauties) namun tetap dengan value halal juga.
    2. Bekerja dengan Penulis.ID dan membuat ribuan konten berkualitas untuk mendukung kampanye brave & beauties agar tim Wardah bisa fokus dalam pembentukan komunitas secara keseluruhan.

    Setelah berjalan beberapa lama, bagaimana hasil dari strategi content marketing untuk bisnis Wardah ini? Berikut adalah beberapa hasil yang berhasil dicapai oleh mereka:

    • Organic traffic ke website dan social media Wardah meningkat cukup signifikan.
    • Perubahan paradigma ICP memandang Wardah, dari awalnya Wardah hanya untuk wanita muslim, kini Wardah juga cocok untuk wanita modern yang brave & beauties sesuai kampanye yang tim Wardah memang ingin angkat.

    Seperti Wardah, dan bisnis-bisnis sukses lainnya di luar negeri, strategi content marketing untuk B2C hanya akan berjalan kalau Anda bisa relate dengan customer, dan eksekusinya juga baik.

    Lihat berbagai case study menarik lainnya dengan mengklik tombol “See Pricing & Portfolio” di bawah!

  • Strategi Content Marketing Untuk Bisnis B2B

    Strategi Content Marketing Untuk Bisnis B2B

    Image created with Midjourney

    Content marketing merupakan salah satu komponen utama dalam demand generation. Sebab, Anda dapat meningkatkan exposure dan kepercayaan calon pelanggan dengan menyajikan konten yang relevan dan berkualitas. Memiliki strategi content marketing yang tepat sangatlah penting.

    Apalagi, riset dari Brand Culture menunjukkan bahwa 60% konsumen B2B mengandalkan konten dari sebuah brand sebelum membuat keputusan pembelian. Bahkan, masih menurut sumber yang sama, lebih dari 80% klien membaca setidaknya 5 artikel untuk melakukan riset terhadap sebuah produk atau layanan.

    Penemuan tersebut tidaklah mengherankan karena konten yang tepat menjawab masalah dan kebutuhan pelanggan akan menciptakan hubungan yang kuat sejak awal. Di sini, Anda bisa mempelajari langkah-langkah praktis untuk mengoptimalkan upaya content marketing Anda, sehingga tim pemasaran dapat menghasilkan demand yang berkualitas serta membantu proses closing penjualan secara lebih natural.

    Tentukan Ideal Customer Profile

    Pertama, tentukan Ideal Customer Profile (ICP) atau pelanggan terbaik Anda berdasarkan industri, ukuran perusahaan, tantangan yang mereka hadapi, dan peran pengambil keputusan di organisasi. Mulailah dengan mengumpulkan data melalui riset pasar, wawancara dengan pelanggan, dan analisis perilaku pengguna. Misalnya, jika Anda menargetkan perusahaan teknologi, fokuskan pada perusahaan dengan tim IT yang cukup besar dan pencipta keputusan seperti CTO atau CIO.

    Gunakan survei online dan tools analitik untuk mendapatkan informasi mendalam mengenai karakteristik pelanggan Anda. Lakukan segmentasi berdasarkan data demografis dan psikografis. Selain itu, evaluasi feedback dari tim sales untuk mendapatkan wawasan langsung terkait kendala yang dihadapi prospek. Data pendukung seperti laporan industri dan studi kasus dapat memvalidasi profil yang Anda buat. 

    Apabila tidak memiliki resource internal yang memadai, Anda bisa bekerjasama dengan market research agency Jakarta seperti Demand Gen Lab yang sudah berpengalaman membantu banyak brand di Indonesia dan Southeast Asia.

    Proses ini mirip dengan fase awal demand generation, sebab Anda juga harus mendefinisikan buyer personas secara menyeluruh untuk menciptakan pesan yang tepat sasaran. Dengan ICP yang jelas, Anda akan menyusun konten yang relevan dan membantu menyelesaikan pain points yang mereka hadapi.

    Buat Strategi Konten untuk Tujuan Bisnis Anda

    Setelah menetapkan ICP, Anda bisa mulai menyusun strategi content marketing yang selaras dengan tujuan bisnis Anda. Tetapkan objective atau tujuan yang spesifik, misalnya meningkatkan awareness, mengumpulkan lead, atau mendorong konsumen memilih layanan Anda. Kuncinya, pastikan konten yang Anda buat sesuai dengan tahap perjalanan pembeli. Jika prospek masih berada di fase awareness, Anda dapat menghasilkan artikel edukatif atau video informatif. Di sisi lain, untuk fase consideration dan decision, konten seperti studi kasus, demo produk, atau testimoni pelanggan sangat efektif.

    Sebagai contoh, apabila tujuan Anda adalah demand generation, buatlah content pillar yang menjawab pain points utama dari ICP. Anda bisa membuat seri blog tentang “Solusi Teknologi untuk Meningkatkan Efisiensi Operasional” yang dibagi menjadi beberapa bagian. Setiap bagian menjawab pertanyaan kritis yang sering muncul di benak calon pelanggan. 

    Selain itu, rancang kalender konten yang mengatur jadwal publikasi dan distribusi konten ke berbagai channel. Sebab, algoritma di media sosial seperti Instagram, LinkedIn, dan lainnya akan lebih memprioritaskan akun yang konsisten menerbitkan konten. Terutama, pada jam-jam aktif target audiens mereka. Dengan cara ini, Anda memastikan setiap konten memiliki tujuan yang terukur dan mendukung strategi pemasaran secara keseluruhan.

    Buat Konten Berkualitas Tinggi

    Menurut panduan resmi dari Google tentang cara kerja algoritma hasil pencariannya, konten berkualitas tinggi harus menjawab pertanyaan dan menyelesaikan masalah yang dihadapi oleh ICP Anda. Misalnya, Anda bisa membuat artikel mendalam yang mengulas tren industri, whitepaper yang memaparkan studi kasus nyata, atau webinar interaktif yang mengundang diskusi langsung.  

    Gunakan grafik, infografis, dan video untuk menyajikan data dengan cara yang mudah dicerna. Anda harus memastikan setiap konten disusun dengan bahasa yang lugas dan efektif sehingga memudahkan prospek memahami pesan yang disampaikan. Data pendukung seperti statistik industri atau hasil survei pelanggan akan meningkatkan kredibilitas konten Anda. 

    Libatkan subject matter expert internal atau seseorang yang ahli di bidang yang akan menjadi sorotan konten Anda untuk memberikan wawasan yang berbobot dan dapat dipercaya. Jika diperlukan, Anda juga dapat bekerja sama dengan content agency yang berpengalaman, misalnya Penulis.ID, dalam membuat konten berkualitas. Dengan demikian, Anda membangun reputasi sebagai sumber informasi terpercaya di industri.

    Distribusi dan Modifikasi Konten Untuk Berbagai Channel

    Strategi content marketing yang hebat tidak akan efektif jika konten tidak didistribusikan dengan tepat. Anda harus mengoptimalkan distribusi konten di berbagai channel yang relevan dengan bisnis Anda. Untuk bisnis B2B, LinkedIn merupakan platform yang wajib Anda manfaatkan. 

    Namun, jangan abaikan juga channel lain seperti blog perusahaan, email marketing, dan media sosial seperti Twitter atau Facebook. Alasannya, menurut Demand Base, 52% klien B2B melakukan pencarian online untuk mempelajari sebuah brand, dan 36% dari mereka mengandalkan konten yang diterbitkan di website resmi perusahaan. 

    Agar lebih efektif, sesuaikan format konten untuk tiap channel. Jika Anda memiliki artikel panjang di blog, pertimbangkan untuk mengubahnya menjadi infografis atau carousel post di LinkedIn. Kemudian, Anda juga dapat mengemas ulang sebuah studi kasus menjadi video pendek untuk menarik perhatian. 

    Apa pun jenis konten yang Anda terbitkan, selalu evaluasi performa tiap channel melalui metrik engagement dan konversi. Sebab, data ini membantu Anda menentukan channel mana yang paling efektif untuk target audiens Anda. Dengan distribusi yang tepat, Anda dapat meningkatkan jangkauan konten dan membangun hubungan yang lebih erat dengan calon pelanggan.

    Ukur, Analisa, dan Ulangi

    Apabila Anda sudah selesai menerbitkan konten, selalu evaluasi performanya. Gunakan alat analitik seperti Google Analytics, HubSpot, atau platform CRM internal untuk memonitor metrik seperti jumlah tayangan, tingkat interaksi, dan konversi. Langkah ini membantu Anda memahami konten mana yang memberikan dampak positif dan mana yang perlu diperbaiki.

    Supaya proses evaluasi lebih terukur, tetapkan KPI (Key Performance Indicators) yang jelas untuk tiap konten. Misalnya, Anda bisa menargetkan peningkatan engagement sebesar 15% atau penambahan lead sebanyak 10% per bulan. Setelah mendapatkan data, lakukan analisa mendalam dan identifikasi tren yang muncul. Selanjutnya, terapkan perbaikan atau eksperimen baru berdasarkan hasil analisa. 

    Proses pengukuran dan analisa konten harus menjadi siklus berkelanjutan, sehingga strategi content marketing Anda selalu relevan dan responsif terhadap dinamika pasar. Selain itu, data pendukung ini memungkinkan tim pemasaran untuk membuat keputusan yang lebih strategis dan meningkatkan efektivitas setiap kampanye.

    Bonus: Utamakan Membantu Calon Customer, Bukan Jualan

    Fokus utama content marketing dalam bisnis B2B adalah membantu calon pelanggan menemukan solusi atas masalah yang mereka hadapi, bukan sekadar menjual produk. Jadi, Anda harus memberikan nilai tambah melalui konten yang edukatif dan informatif supaya calon pelanggan merasa terbantu dan semakin percaya pada perusahaan Anda.

    Untuk membantu calon pelanggan, buatlah panduan gratis atau ebook yang menjelaskan langkah-langkah mengatasi tantangan umum di industri target Anda. Anda juga dapat mengadakan webinar atau sesi konsultasi gratis yang memberikan wawasan mendalam mengenai solusi yang Anda tawarkan. 

    Selain itu, hindari penggunaan bahasa yang terlalu promosi. Sebaliknya, gunakan pendekatan yang bersifat edukatif dan solutif. Ajukan pertanyaan kepada audiens melalui konten Anda, misalnya, “Bagaimana cara meningkatkan efisiensi operasional dengan teknologi terbaru?” Pendekatan ini membantu membangun hubungan yang lebih personal dengan prospek. 

    Dalam bisnis B2B, calon pelanggan cenderung menghargai hubungan jangka panjang dan kepercayaan, sehingga pendekatan membantu lebih efektif dibandingkan dengan strategi hard selling. Dengan demikian, ketika tim BD mengunjungi calon pelanggan, mereka menemukan prospek yang sudah memiliki pemahaman dan kepercayaan terhadap brand Anda.

    Contoh Penerapan Content Marketing B2B – Demand Gen Lab x Modalku

    Modalku adalah salah satu perusahaan pionir peer-to-peer lending di Indonesia. Karena mereka merupakan salah satu brand pertama yang menawarkan solusi pendanaan alternatif bagi bisnis di Indonesia, Modalku menghadapi tantangan berat. Beberapa masalah awal yang mereka hadapi adalah:

    • Masih sedikit yang memahami konsep “peer-to-peer lending” di Indonesia.
    • Permodalan alternatif bagi bisnis di Indonesia masih belum umum.
    • Merek Modalku yang masih baru di kala itu.

    Untuk mengatasi masalah-masalah tersebut, tim marketing Modalku memutuskan untuk bekerjasama dengan Demand Gen Lab, market research agency di Jakarta. Kami percaya, demand generation berbasis strategi content marketing akan sangat cocok bagi Modalku saat itu. Langkah-langkah yang dilakukan Demand Gen Lab untuk membantu Modalku juga mengikuti strategi yang sudah di bahas di atas:

    • Memahami ideal customer profile Modalku. Dalam case Modalku, salah satunya adalah perwakilan dari bisnis yang memiliki cashflow baik, butuh pendanaan dari ratusan juta sampai 2 miliar. Setelah mendapatkan insight dari ICP ini, Demand Gen Lab menyusun strategi konten yang sesuai.
    • Bekerjasama dengan content agency Penulis.ID untuk membuat konten berkualitas + distribusi ke berbagai channel termasuk owned media milik Modalku. Kolaborasi ini telah menghasilkan ratusan konten yang tujuan utamanya adalah membantu ICP di poin pertama.
    • Ukur, analisa, dan ulangi juga kami lakukan. Dari hasil data analytics, Modalku dapat menentukan konten apa yang jalan dan mana yang kurang. Sehingga dalam produksi konten berikutnya, akan lebih spot-on bagi ICP.

    Setelah berjalan beberapa lama, bagaimana hasil dari content marketing untuk bisnis Modalku ini? Berikut adalah beberapa hasil yang berhasil dicapai oleh mereka:

    • Organic traffic meningkat dari puluhan visitor per bulan menjadi ratusan ribu visitor website per bulan.
    • Pengajuan pinjaman dari sisi bisnis meningkat, dengan lead yang berasal dari website.

    Seperti Modalku, dan bisnis-bisnis sukses lainnya di luar negeri, strategi content marketing untuk B2B hanya akan berjalan kalau eksekusinya juga baik dan Anda telah memahami ICP melalui market research yang benar.

    Cek berbagai case study menarik lainnya dengan mengklik tombol “See Pricing & Portfolio” di bawah!

  • Apa Itu Demand Generation? Panduan Lengkap Demand Generation Dengan Case Study

    Apa Itu Demand Generation? Panduan Lengkap Demand Generation Dengan Case Study

    Apa itu demand generation?
    Image created by Midjourney

    Demand Generation berhasil meningkatkan angka pengunjung website sebesar 245%, jumlah leads calon customer di sales pipeline sebesar 43%, dan kenaikan jumlah customer serta penjualan dari marketing! Jadi, apa itu demand generation dan bagaimana contoh case study-nya?

    Berdasarkan riset dari Alexander Group, investasi di demand generation bisa menghasilkan 55% kenaikan revenue dari marketing. Jumlah leads calon customer di sales pipeline juga meningkat sebesar 43%. Data ini disupport oleh riset dari Madison Taylor Marketing yang mengatakan penerapan demand generation dalam strategi iklan menghasilkan kenaikan jumlah pengunjung website sebanyak 245% dan 69% kenaikan jumlah customer baru. Menarik kan? Mari kita bahas apa itu demand generation lebih lanjut.

    Demand Gen Lab, market research agency Jakarta, akan memberikan panduan lengkap tentang apa itu demand generation, bagaimana cara menjalankan demand generation, dan beberapa case study memanfaatkan market research yang sukses untuk membantu tim marketing Anda!

    Jadi, Apa itu Demand Generation?

    Demand Generation adalah strategi bisnis agar orang yang tepat tertarik dengan apa yang kita jual dengan menunjukkan bahwa produk kita bisa menyelesaikan masalah mereka. Untuk meningkatkan demand, biasanya bisnis akan berfokus pada menemukan customer yang tepat, mengedukasi mereka, dan membangun kepercayaan dengan berusaha menunjukkan bagaimana produk yang dijual bisa menyelesaikan masalah customer.

    Apa Manfaat Demand Generation?

    Seperti namanya, demand generation berfokus pada “demand”, yaitu permintaan terhadap produk yang kita jual. Dengan permintaan meningkat, asumsi conversion rate dari tim sales kita sama, maka jumlah customer dan sales bisa meningkat. Eksekusi demand generation yang baik biasanya berujung pada kenaikan jumlah customer dan sales seperti yang sudah terbukti dalam riset pasar di atas. Beberapa manfaat demand generation yang umum adalah:

    • Brand awareness meningkat
    • Kepercayaan customer lebih tinggi
    • Sales pipeline dengan lead yang lebih berkualitas (karena demand meningkat)
    • ROI marketing team jadi lebih baik

    Apa Bedanya Demand Generation Dengan Lead Generation?

    Setelah mengenal apa itu demand generation, mari kita bahas pertanyaan yang paling sering muncul: Apa bedanya demand generation dengan lead generation? Demand Generation adalah strategi yang fokus untuk meningkatkan “demand” atau permintaan terhadap produk yang kita jual. Sedangkan Lead Generation adalah strategi yang fokusnya lebih untuk mendapatkan calon customer yang mungkin nantinya bisa jadi pembeli.

    Pada prakteknya, demand generation dan lead generation ini berjalan beriringan. Dengan eksekusi demand generation yang baik, maka calon customer yang masuk sebagai “lead” akan memiliki intensi membeli yang lebih tinggi daripada calon customer yang belum punya “demand” terhadap produk kita. Artinya, demand generation bisa mensupport dan menghasilkan “lead” yang lebih berkualitas. Dengan demand yang meningkat, maka jumlah calon customer yang bisa dikonversi menjadi “lead” jauh lebih besar dari biasanya. Lalu dengan intensi membeli lebih tinggi, maka konversi dari “lead” menjadi “customer” bisa jadi lebih tinggi juga.

    Demand Generation Dalam Marketing Funnel

    Kalau kita bicara marketing funnel, kita bisa bagi jadi Top (Awareness), Middle (Consideration), dan Bottom (Decision). Demand generation adalah strategi bisnis yang bisa meningkatkan fase awareness dan consideration. Jadi posisi demand gen dalam marketing funnel ada di top dan middle of the funnel. 

    Strategi demand generation berfokus pada meningkatkan awareness terhadap masalah yang dihadapi oleh customer, lalu mengarahkan mereka melihat potensi bahwa produk yang kita jual bisa menyelesaikan masalah tersebut (consideration). Aktivitas demand generation biasanya banyak melibatkan edukasi customer dan membantu customer menyelesaikan masalah mereka.

    Apa KPI Utama Demand Generation?

    Tujuan akhir dari demand generation adalah meningkatkan permintaan. Biasanya, ada beberapa KPI yang digunakan untuk mengukur permintaan tersebut. KPI demand generation biasanya adalah jumlah leads dari aktivitas marketing, jumlah inquiry untuk diskusi lebih lanjut/set up meeting, organic traffic ke website, dan download whitepaper/portfolio kita.

    Cara Eksekusi Demand Generation

    Setelah membahas apa itu demand generation, manfaat, serta KPI-nya, kini Demand Gen Lab akan membahas cara umum mengeksekusi strategi demand generation. Berikut langkah-langkah umumnya:

    Pahami customer dengan market research

    Kenali siapa calon customer yang memang memiliki masalah yang mungkin bisa diselesaikan oleh produk yang kita jual. Lakukan riset pasar, pahami benar pain point calon customer, dan bagaimana cara menjangkau mereka. Kalau Anda tidak punya resources internal yang cukup, bisa juga bekerjasama dengan market research agency Jakarta seperti Demand Gen Lab untuk mempermudah prosesnya.

    Buat strategi marketing yang sesuai dengan insight riset

    Insight yang kita dapatkan dari market research bisa digunakan sebagai dasar pembuatan strategi marketing yang berbasis demand generation. Strategi marketing ini sudah harus ada apa pain pointnya yang ingin dibahas, apa fitur produk kita yang bisa menyelesaikan pain point tersebut, cara kita deliver pesan yang ingin kita sampaikan ke customer, dan dimana kita harus menjangkau customer kita.

    Produksi content/activity marketing yang bisa membantu customer

    Kunci dari demand generation yang utama adalah menciptakan konten atau aktivitas marketing yang benar-benar bisa membantu calon customer kita menyelesaikan masalah dan pain point mereka. Apabila resources internal Anda kurang, bisa juga memanfaatkan jasa content agency seperti misalnya Penulis.ID yang banyak memiliki portfolio brand kuat.

    Distribusi konten/activity ke customer kita melalui channel yang cocok 

    Lakukan semua konten dan aktivitas marketing di channel tempat calon customer kita berkumpul. Data ini bisa kita lihat melalui riset pasar di tahap pertama tadi.

    Track data dan analytics, lalu evaluasi

    Demand generation yang baik selalu berdasarkan data. Jadi pastikan Anda bisa mengetrack semua performa konten dan aktivitas marketing untuk mengetahui apakah sudah sampai ke calon customer yang tepat. Setelah memiliki data tersebut, evaluasi lalu kembali mengikuti langkah-langkah demand generation dari awal.

    Namun perlu dicatat pada prakteknya, dari pengalaman kami di Demand Gen Lab, tiap perusahaan mungkin perlu melakukan sedikit modifikasi dalam langkah-langkah di atas. Tiap bisnis punya tantangan dan target utama yang berbeda, itu yang membuat kami sebagai market research firm juga harus mencari insight yang bisa mendukung tim marketing klien.

    Case Study Demand Generation yang Sukses

    TV Tokyo x Demand Gen Lab

    Hasil Utama:

    Kenaikan subscribers 22x lipat dalam 2 minggu

    Apa yang Demand Gen Lab Lakukan?

    TV Tokyo memiliki rencana untuk meluncurkan channel Youtube khusus pasar Indonesia. Demand Gen Lab memulai marketing campaign ini dengan memahami siapa calon customer TV Tokyo di Indonesia. DGL melakukan market research di Jakarta dengan berfokus pada audiens yang menyukai anime dan dorama Jepang, dua konten utama yang akan tayang di Youtube TV Tokyo.

    Data dari riset pasar ini memberikan banyak sekali insight yang luar biasa. Dari insight tersebut, DGL membuat marketing strategy untuk launching Youtube channel ini. Salah satunya adalah bekerjasama dengan content creator dan cosplayer Punipun. Kami bekerjasama membuat konten jokes yang appealing untuk audiens TV Tokyo di Indonesia.

    Video ini ditonton oleh ratusan ribu orang, membuat awareness mengenai launching Youtube channel TV Tokyo meningkat. Kami juga mengirimkan press release ke berbagai media yang memiliki kanal hiburan.

    Akhirnya ketika channelnya dilaunching, TV Tokyo berhasil meningkatkan jumlah subscriber 22x lipat dari jumlah awal, meraih 3x hasil lebih baik dari target KPI awal.

    Siapa yang Butuh Demand Generation?

    Kalau Anda sudah yakin bahwa bisnis anda memiliki produk yang memang bisa menyelesaikan masalah dari customer, maka bisnis Anda sudah bisa menggunakan strategi demand generation. Dengan meningkatkan demand, Anda juga bisa memperbaiki sales pipeline dalam jangka panjang.

    What Next?

    Tertarik mengeksplor strategi Demand Generation lebih lanjut? Atau minimal memulai dengan melakukan market research untuk memahami customer Anda dulu?

    Anda bisa mengklik tombol “Contact Us” untuk berdiskusi lebih lanjut dengan tim Demand Gen Lab yang merupakan market research agency di Jakarta. Anda juga bisa mengklik tombol “See Pricing & Portfolio” dan melihat berbagai case study sukses penggunaan market research untuk mendukung strategi marketing Anda.